Pada Jumat (06/05) telah dilakukan penyelidikan epidemiologi suspek demam chikungunya di Dusun Kalapanunggal II Desa Sindangkasih oleh petugas Epidemiolog Kesehatan dan petugas Kesehatan Lingkungan dari Puskesmas Sindangkasih. Berdasarkan hasil pemeriksaan serologis Rapid Diagnostic Test (RDT) Chikungunya dengan hasil negatif.
Apa Itu Chikungunya?
Chikungunya adalah penyakit tropis yang menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Saat seseorang terinfeksi virus Chikungunya, ia bisa mengalami gejala seperti:
-
Demam tinggi
-
Tubuh terasa lemah
-
Nyeri hebat pada sendi dan tulang yang bisa berlangsung lama, bahkan hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun
Gejala umumnya muncul segera setelah infeksi, tetapi ada juga kasus tanpa gejala. Perjalanan penyakit ini terbagi dalam tiga fase, yaitu fase akut, fase pasca-akut (berlangsung 1–3 bulan), dan fase kronis (lebih dari 3 bulan). Gejala yang menetap dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas, sehingga pencegahan sangat penting. Menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah utama agar nyamuk tidak memiliki tempat berkembang biak.
Segera Lakukan Penanganan Chikungunya
Hingga saat ini, belum ditemukan obat antivirus khusus untuk Chikungunya. Penanganan yang tersedia bertujuan meredakan gejala, seperti istirahat yang cukup, mencukupi asupan cairan tubuh, serta konsumsi obat pereda nyeri sendi.
Langkah Pencegahan Chikungunya
Pencegahan utama terhadap Chikungunya adalah menjaga lingkungan tetap bersih untuk mencegah tempat berkembang biaknya nyamuk. Lakukan gerakan 3M Plus, yaitu:
-
Menguras tempat penampungan air secara berkala
-
Menutup rapat tempat penyimpanan air
-
Mendaur ulang atau membuang barang bekas yang bisa menampung air
-
Plus: Menggunakan obat anti-nyamuk, memasang kawat pada ventilasi rumah, serta menjaga agar saluran air tidak tersumbat. Bubuk abate juga bisa ditaburkan ke tempat penampungan air sebagai langkah tambahan.